Tunangan atau Lamaran menurut Islam

Share Me !!!

Tunangan atau lamaran menurut Islam

Berusia Besar ini siapa yang tidak memahami sebutan tunangan? Ya, tunangan yang berarti mengikat seorang saat sebelum menikah dengan pendampingnya lewat proses pinangan ataupun prosesi lamaran. Pendamping yang mau menikah umumnya didahului dengan bertunangan serta tunangan dikira bagaikan langkah dini buat mencapai tujuan perkawinan dalam islam. Pihak lelaki hendak tiba melamar pihak perempuan baik sendiri ataupun bersama keluarganya serta membuat konvensi bersama tentang rencana perkawinan baik nikah secara formal ataupun nikah siri. Dalam sebutan sebutan tunangan sesungguhnya telah lama diketahui. Dalam islam meminang seseorang perempuan serta mengikatnya dalam ikatan dissebut dengan khitbah. Buat mengenali lebih lanjut tentang hukum serta perihal lain yang menyangkut tunangan dalam islam ikuti uraian berikut ini.

Penafsiran serta Ketentuan Khitbah

Khitbah ataupun yang diketahui dengan sebutan meminang berarti seseorang pria yang tiba memohon kepada seseorang wanita buat jadi istrinya, dengan cara- cara yang universal berlaku dalam warga tersebut. Berikutnya bila pihak perempuan menerima lamaran pihak lelaki hingga pendamping tersebut dinyatakan sudah bertunangan dengan memberikan cincin tunangan. Sehabis bertunangan umumnya pendamping hendak mengurus persiapan menikah di KUA( baca menikah di KUA dengan wna) Dalam melakukan khitbah ataupun lamaran terdapat 2 ketentuan yang wajib dipadati ialah:

1) Ketentuan mustahsinah

Ketentuan mustahsinah merupakan ketentuan yang menyarankan pihak pria buat mempelajari dulu perempuan yang hendak dipinang ataupun dikhitbahnya. Ketentuan ini tercantum ketentuan yang tidak harus dicoba saat sebelum meminang seorang. Khitbah seorang senantiasa legal walaupun tanpa penuhi ketentuan mustahsinah. Untuk seseorang lelaki dia butuh memandang dahulu watak serta semacam apa penampilan perempuan yang hendak dipinang apakah penuhi kriteria calon istri yang baik( baca pula kriteria calon suami yang baik) serta cocok dengan anjuran Rasulullah dalam hadits berikut ini:

Perempuan dikawin sebab 4 perihal, sebab hartanya, keturunannya, kecantikannya, serta sebab agamanya, hingga hendak memelihara tanganmu”.( HR Abu Hurairah)

Bersumber pada hadits tersebut hingga sebaiknya laki- laki mencermati agama si perempuan, generasi, peran perempuan( apakah cocok dengan dirinya), watak kasih sayang serta lemah lembut, dan jasmani serta rohani yang sehat.

2). Ketentuan lazimah

Yang diartikan ketentuan lazimah merupakan ketentuan yang harus dipadati saat sebelum peminangan dicoba serta bila tidak dicoba hingga pinangannya ataupun tunangannya tidak legal. Ketentuan lazimah meliputi

Perempuan yang dipinang tidak lagi dalam pinangan pria lain sebagaimana yang dipaparkan dalam hadits berikut ini

Janganlah seorang dari kalian meminang( perempuan) yang dipinang saudaranya, sehingga peminang tadinya meninggal- kannya ataupun sudah mengizinkannya.”( HR Abu Hurairah)

Perempuan yang lagi terletak dalam iddah talak raj’ i( baca hukum talak dalam perkawinan). Perempuan yang lagi dalam talak raj’ i masih rujuk dengan suaminya serta diajarkan buat tidak dipinang saat sebelum masa iddahnya habis serta tidak memutuskan buat berislah ataupun berbaikan dengan mantan suaminya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam pesan Angkatan laut(AL) Baqarah ayat 228

Serta suami- suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, bila mereka( para suami) menghendaki ishlah.”( Al- Baqarah: 228)

Perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya serta dalam masa iddah ataupun yang menjalanai idah talak ba’ in( baca perbandingan talak satu, 2 serta 3) boleh dipinang dengan sindiran ataupun kinayah. Perihal ini cocok dengan firman Allah SWT dalam Angkatan laut(AL) qur’ an pesan Angkatan laut(AL) baqarah ayat 235

Serta tidak terdapat dosa untuk kalian meminang wanitawanita itu dengan sindiran ataupun kalian Menyembunyikan( kemauan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengenali kalau kalian hendak menyebut- nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kalian Mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali hanya mengucapkan( kepada mereka) Perkataan yang ma’ ruf”.( Al- Baqarah: 235)

Hukum Tunangan dalam Islam

Bagi sebagian besar ulama, tunangan dikategorikan bagaikan pendahuluan ataupun persiapan saat sebelum menikah serta melaksanakan khitbah ataupun pinangan yang mengikat seseorang perempuan saat sebelum menikah hukumnya merupakan mubah( boleh), sepanjang ketentuan khitbah dipadati. Tunangan ataupun khitbah diperbolehkan dalam islam sebab tujuan peminangan ataupun tunangan cumalah hanya mengenali kerelaan dari pihak perempuan yang dipinang sekalian bagaikan janji kalau si laki- laki hendak menikahi perempuan tersebut. Sebagaimana hadits berikut ini:

Bila di antara kamu hendak meminang seseorang perempuan, serta sanggup buat memandang darinya apa- apa yang mendorongnya buat menikahinya, hingga lakukanlah.”( HR. Imam Ahmad serta Abu Dawud)

Hadits tersebut menarangkan kalau islam mengizinkan pria buat melaksanakan pinangan kepada seseorang perempuan serta mengikatnya dengan tali pertunangan tetapi bila perihal ini cocok syariat islam. Sehabis melakukan pertunangan si perempuan senantiasa belum halal untuk si laki- laki serta keduanya tidak diperbolehkan buat silih memandang, berkumpul bersama ataupun melaksanakan hal- hal yang dilarang yang bisa menjerumuskan dalam perbuatan zina( baca Zina dalam islam). Perihal ini cocok dengan hukum kompilasi islam pasal 11 tentang akibat hukum dari khitbah ataupun tunangan yang mengatakan kalau:

Pinangan belum memunculkan akibat hukum serta para pihak leluasa memutuskan ikatan peminangan.

Kebebasan memutuskan ikatan peminangan dicoba dengan tata metode yang baik cocok dengan tuntunan supaya serta kerutinan setempat, sehingga senantiasa terbina kerukunan serta silih menghargai

Hukum membagikan hadiah pertunangan

Dikala bertunangan kita kerap mendengar sebutan ubah cincin tunangan, kemudian bagaimanakah hukumnya dalam islam? Sesungguhnya kerutinan ubah cincin tunangan dapat jadi cumalah kerutinan tetapi seseorang pria diperbolehkan berikan hadiah ataupun cinderamata kepada tunangannya ataupun yang diucap dengan sebutan urf. Bila dikemudian hari pihak laki- laki membatalkan pertunangan ataupun pinangannya hingga dia tidak dibenarkan buat mengambil kembali hadiah tersebut. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa

Tidak halal untuk seorang muslim berikan sesutau kepada orang lain setelah itu memintanya kembali, kecuali pemberian bapak kepada anaknya”( HR. Ahmad al- irba’ ati wa shohihu al- Tirmidzi wa ibnu hibban wa al- Hakim)

Hukum membatalkan pertunangan

Tunangan ataupun pinangan cumalah janji seseorang laki- laki yang hendak menikahi seseorang perempuan serta ialah langkah dini dalam mempersiapkan sesuatu perkawinan. Berdsarakan perihal tersebut hingga sesungguhnya pertunangan dapat diputuskan ataupun dibatalkan oleh salah satu pihak misalnya bila terjalin konflik dalam keluarga. walaupun demikian bila tunangan dibatalkan oleh pihak wanita terdapat baiknya mahar yang sudah diberikan oleh si laki- laki dipulangkan. Walaupun demikian seseorang laki- laki yang telah berjanji pada seseorang perempuan hendaknya penuhi janjinya tersebut sebab bukankah seseorang muslim wajib penuhi janjinya sebagaimana yang disebutkan dalam Alqur’ an pesan Angkatan laut(AL) isra ayat 34

” Serta penuhilah janji; Sebetulnya janji itu tentu dimohon pertanggungan jawabnya”.

Demikianlah uraian tentang hukum serta hal- hal yang terpaut dengan tunangan dalam islam. Hendaknya saat sebelum menikah kita mengenali terlebih dulu kriteria calon pendamping yang baik serta metode memilah pasangan hidup dalam islam misalnya dengan metode ta’ aruf bukan dengan pacaran( baca pacaran dalam islam). Bila kamu tidak kunjung memperoleh jodoh( baca pemicu terhalangnya jodoh) maka

janganlah berputus asa( baca bahaya putus asa) sebab dapat menimbulkan hati jadi risau( baca pemicu hati risau) tetaplah bersabar serta berdoa pada Allah supaya dikaruniai jodoh yang baik.