PERNIKAHAN VS PENDIDIKAN

Share Me !!!

Perkawinan VS Pembelajaran, Yang Mana Duluan?

Tidak dapat dipungkiri, kalau gejolak buat menikah diusia muda telah sangat bergemuruh dikala ini di media sosial kita. Mulai dari diskriminasi terhadap kalangan jomblo(*ini sungguh- sungguh), sampai memakai dalil agama bagaikan basis legitimasi. Tulisan ini tidak buat mangulas benar tidaknya argumentsai tersebut, tetapi buat membahas fenomena dibalik peristiwa diatas, pergejolakan kalangan muda buat memilah diantara perkawinan serta pembelajaran, mana yang wajib didahulukan?

Banyak sahabat aku yang memilah buat menikah pada umur muda, katakanlah paska lulus SMA. Meski tidak banyak, terdapat pula yang menikah kala lagi melaksanakan riset sarjana. Mayoritas yang lain memilah menikah sehabis menuntaskan studinya di tingkatan sarjana( S1). Sisanya–seperti saya–mungkin menikah sehabis menuntaskan riset paskasarjana, ataupun dapat jadi sehabis jenjang doktoral. ataupun dapat jadi sehabis itu, entahlah.

Disukai ataupun tidak, fenomena buat menikah diusia yang dibilang muda tersebut memanglah ialah suatu tren masa saat ini. Tetapi, kita pula tidak bisa menutup mata dari mereka yang memilah buat menikah diusia yang lebih berusia. Bila kita menyamakan Meter. Hatta yang baru menikah diusia 43 tahun dengan Soekarno yang memutuskan buat menikah diusia 20 tahun; keduanya mempunyai basis alasan tiap- tiap. Tidak elok sekiranya kita memperhitungkan seorang dari umur dia menikah, lebih baik buat membicarakan kebaikan serta“ artefak” kehidupannya saja, kan?

Tetapi, fenomena perkawinan dikala ini acapkali dibenturkan dengan salah satu variabel: pembelajaran. 2 variabel ini–entah gimana caranya–selalu mempunyai sebab- akibat satu sama yang lain di masa saat ini. Misal, memilah tidak menikah saat sebelum menuntaskan riset sarjana 1, ataupun menikah kala lagi menuntaskan riset master, dst. Lalu, apakah 2 variabel ini memanglah silih berkaitan, ataukah ini dibentuk atas asumsi- asumsi belaka? Kalau mereka yang belum purna pembelajaran sarjana1- nya dikira belum matang buat suatu perkawinan, ataupun mereka yang sudah menuntaskan riset doktor dikira telah mumpuni hendak ilmu perkawinan. Benarkah wajib demikian?

Aku individu menyangka 2 variabel ini, sungguhpun mempunyai keterkaitan, tidak bisa dijadikan alibi yang bertabiat sebab- akibat ataupun silih mempengaruhi dalam memutuskan suatu perkawinan. Untuk aku, pembelajaran merupakan kebutuhan dasar tiap orang. Tiap masyarakat manusia berhak buat mengenyam pembelajaran sampai setinggi apapun yang dia ingin. Jika dia cuma menginginkan pembelajaran sampai jenjang SMP, silahkan. Memilah buat mandiri paska SMA, pula silahkan. Begitupula mereka yang memilah buat meneruskan pembelajaran ke jenjang sarjana, tidak terdapat salahnya. Kemudian, apakah jenjang pembelajaran ini sendiri ialah ketentuan suatu perkawinan? Aku individu menganggapnya tidak.

Orang berhak menikah di umur kapanpun dia mau–dalam perihal ini pemerintah sudah menetapkan umur minimun perkawinan. Bila terdapat mereka yang mau menikah paska SMA, hingga itu ialah hak mereka serta tidak bisa kita ganggu gugat. Begitupula dengan mereka yang memutuskan buat menikah sehabis menuntaskan riset doktoral, itu pula ialah opsi mereka. Kalau variabel pembelajaran serta perkawinan memanglah tidaklah suatu perihal yang wajib dipertentangkan. Bila terdapat yang mempertentangkan mereka yang mau menikah kala lagi melaksanakan pembelajaran sarjana 1 dengan alasan- alasan kalau mereka masih di bangku kuliah, kemudian apa kelainannya dengan mereka yang menikah sehabis menuntaskan riset master kemudian sehabis itu menyambung buat kembali melanjutkan riset doktoral, misalnya. Bukankah mereka bersama berstatus mahasiswa? Tetapi, mengapa kita memperlakukannya berbeda?

Hemat aku, alibi implisit mengapa 2 variabel ini terus dikait- kaitkan salah satunya sebab status pekerjaan. Kalau mereka yang masih mengenyam pembelajaran dikira belum mempunyai pekerjaan senantiasa. Meski ini pula bisa diperdebatkan lebih lanjut, tetapi rasanya perihal ini yang membuat banyak orang mempertentangkan antara perkawinan serta pembelajaran. Kalau mereka yang masih mengenyam pembelajaran dikira belom sanggup menafkahi kebutuhan materil rumah tangga dengan alibi pekerjaan bagaikan esensi utama.

Lalu, gimana dengan mereka yang melaksanakan riset dari jenjang sarjana sampai doktoral tanpa sela waktu? Dengan anggapan agresif, aksi itu paling tidak memakan waktu 10 tahun. Di sebagian tempat, aku sempat berjumpa dengan Associate Proffesor yang masih sangat muda, berusia 30an serta masih terus mengerjakan riset post- doctoral mereka, yang bila dikalkulasikan bisa menempuh waktu total belasan tahun dari jenjang sarjana. Gimana kita menyikapinya? Apa kita masih menganggapnya belum berusia sebab masih belum menuntaskan studinya?

Aku memandang, butuh terdapat dikotomi antara pembelajaran bagaikan suatu kebutuhan manusia dalam mengenyam pembelajaran serta perkawinan bagaikan suatu entitas manusia bagaikan makhluk biologis serta religius. Kedua perihal ini tidak bisa dipertentangkan, pula tidak bisa digabungkan. Kenapa? Sebab esensi pembelajaran tidaklah buat mencari pemasukan serta pekerjaan. Untuk mereka yang mau memperoleh pekerjaan, hingga bekerjalah. Pembelajaran merupakan untuk mereka yang menginginkan kepuasan dahaga ilmu pengetahuan. Tetapi, untuk mereka yang memilah buat kuliah bagaikan suatu salah satu metode buat memeroleh pemasukan, sah- sah saja buat setelah itu menikah setelahnya. Begitupula dengan mereka yang menyangka pembelajaran serta pekerjaan merupakan 2 perihal yang berbeda, hingga keputuannya buat menikah kala riset pula tidak bisa dipersoalkan sepanjang dia sanggup buat penuhi nafkah rumah tangganya.

Merupakan benar terdapatnya kalau tuntutan era memforsir kita buat silih mengaitkan antara satu variabel dengan variabel yang lain dalam hidup. Antara politik serta hukum, antara hukum serta agama, antara agama serta sosial apalagi anrara sosial serta pembelajaran. Tetapi, kita pula wajib tegas buat memisahkan sesuatu perkara yang sesungguhnya tidak mempunyai keterkaitan yang signifikan. Salah satunya merupakan pembelajaran resmi serta perkawinan.

Meski aku individu berpandangan buat memikirkan perkawinan sehabis ataupun kala riset master aku, itu ialah suatu pemikiran personal serta tidak memakai logika di atas kalau pembelajaran serta perkawinan wajib silih kalah mengalahkan. Jika X, hingga Y; jika Y hingga X. Jika ingin menikah, hingga studinya wajib berakhir, ataupun jika ingin riset, hingga pernikahannya wajib ditunda, dsb. Telah benda pasti, pembelajaran yang aku iktikad di tulisan ini merupakan pembelajaran resmi semacam SD, SMP sampai pembelajaran besar. Tidaklah pembelajaran secara universal, dimana seorang tentulah wajib menuntaskan“ pembelajaran” mereka saat sebelum menikah. Misal, pengetahuan tentang keluarga, parenting, financial planning, moralitas perkawinan, dsb.

Buat menutup tulisan ini, aku mengajak kanak- kanak muda seluruhnya buat bertabiat adil kepada diri kita sendiri dalam menyikapi suatu tanpa wajib terbawa emosi atas tuntutan era. Kalau dapat jadi perkawinan serta pembelajaran resmi memanglah tidaklah sesuatu perihal yang layak dipertentangkan. Andaikata kita menyangka riset yang lagi kita tempuh bagaikan salah satu langkah dalam mempersiapkan diri saat sebelum perkawinan, hingga tuntaskanlah pembelajaran tersebut sampai siap. Tetapi, bila kita merasa telah siap meski lagi dalam proses mengenyam pembelajaran, hingga silahkan pula, nothing to lose. Mempersoalkan kedua perihal ini ini sama saja semacam mempersoalkan gimana metode minum es cendol: airnya dahulu ataupun cendolnya dahulu. Bagi kamu gimana? Jika aku bayar dahulu.

share kami untuk cincin kawin, cincin palladium dan cincin emas